JAKARTA – Nusantara sebagai sebuah pengertian berarti suatu tempat yang terletak di antara 2 benua dan 2 lautan besar serta dilintasi oleh garis khatulistiwa. Terbentang luas keragaman 726 bahasa suku dan banyaknya keberagaman daerah yang pasti memengaruhi keanekaragaman arsitekturnya.
Maka, Arsitektur Nusantara adalah arsitektur yang bermacam-macam tetapi tetap mempunyai kesamaan, dan inilah yang kemudian disebut sebagai kesamaan dalam keberagaman. Berhubungan dengan Arsitektur Nusantara, laporan ini akan mengulik terkait pengaruh dari kebudayaan Katolik kepada arsitektur vernakular yang ada di Jawa Timur dan Madura yang terkenal akan budaya Islam.
Daerah Jawa Timur dan Madura merupakan dua daerah di Indonesia yang terkenal dengan budaya Islamnya. Akan tetapi, tidak sedikit tempat-tempat di daerah tersebut dijadikan sebagai tempat untuk umat Katolik atau kristiani beribadah. Laporan ini bertujuan untuk menghasilkan pemahaman tentang arsitektur yang terpengaruh budaya Katolik dengan cara membandingkan elemen arsitektur pada beberapa tempat akibat dari pengaruh datangnya budaya Katolik dan Kristen pada kedua daerah tersebut.
Pengumpulan data yang digunakan untuk melengkapi dan mendukung laporan ini dilakukan dengan melakukan observasi secara naturalistik untuk lebih memahami terkait pengaruh budaya Katolik pada arsitektur vernakular di Jawa Timur dan Madura tanpa harus melakukan survei atau eksperimen lapangan.
Penelitian ini menunjukkan adanya akulturasi antara nilai Katolik dan arsitektur vernakular Jawa Timur dan Madura, baik dalam bentuk, simbol, maupun filosofi. Analisis dilakukan terhadap beberapa bangunan bersejarah yang mencerminkan perpaduan budaya tersebut dan dibagi menjadi tiga bagian utama: (A) Bangunan Katolik, (B) Bangunan Vernakular Lokal, serta (C) Kesamaan dan Perbedaan Filosofi Ruang.
A. Bangunan Katolik di Jawa Timur
1. Gereja Merah, Kediri
Gereja Merah di Kediri menampilkan karakter lokal melalui penggunaan bata merah ekspos yang identik dengan arsitektur Majapahit. Warna merah melambangkan keteguhan iman, sementara bentuk menara dan jendela bergaya gotik menggambarkan hubungan spiritual manusia dengan Tuhan. Material lokal digunakan bukan hanya karena fungsional, tetapi juga sebagai simbol kesederhanaan dan kekuatan iman masyarakat Jawa Timur.

2. Gereja Santa Perawan Maria, Surabaya (Krembangan)
Gereja Santa Perawan Maria merupakan gereja bergaya Gotik yang menonjolkan rose window dan atap runcing tinggi sebagai simbol cahaya ilahi. Penggunaan kayu jati dan bata lokal membuat gereja ini tetap selaras dengan iklim tropis, mencerminkan perpaduan nilai spiritual Katolik dan karakter arsitektur Nusantara.

B. Bangunan Vernakular Lokal sebagai Pembanding
1. Masjid Kuno Kuncen, Madiun
Masjid Kuno Kuncen menggunakan bentuk atap tumpang tiga dengan empat soko guru sebagai penyangga utama. Setiap tingkat atap melambangkan konsep Iman, Islam, dan Ihsan, yang menunjukkan struktur spiritual vertikal, mirip dengan filosofi vertikalisme dalam gereja Katolik.

2. Masjid Agung Sumenep, Madura
Masjid Agung Sumenep merupakan hasil akulturasi antara Islam, Tionghoa, dan kolonial. Gapura masuknya memiliki lengkung besar dan simetri yang menyerupai portal gereja Katolik. Warna kuning dan hijau cerah menjadi simbol keseimbangan antara dunia dan akhirat.

3. Pendopo Agung Trowulan, Mojokerto
Sebagai peninggalan Majapahit, pendopo ini menonjolkan konsep ruang terbuka tanpa dinding yang mencerminkan nilai keterbukaan dan kebersamaan masyarakat Jawa. Unsur ini kemudian memengaruhi tata ruang komunitas Katolik di Jawa Timur yang menekankan kebersamaan umat dalam ibadah.

C. Analisis Kesamaan dan Perbedaan Filosofi Ruang
Arsitektur Katolik maupun lokal keduanya memiliki orientasi vertikal dan makna spiritual yang kuat. Keduanya menggunakan material alami seperti bata merah dan kayu jati sebagai simbol kesederhanaan dan ketahanan.
Persamaan dapat dilihat pada fungsi ruang sebagai media penghubung manusia dengan Tuhan, sedangkan perbedaannya terletak pada pendekatan di mana gereja Katolik menonjolkan struktur simetris dan monumental, sedangkan arsitektur lokal lebih terbuka dan menyatu dengan lingkungan.
Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh Katolik di Jawa Timur dan Madura tidak hanya soal meniru bentuk bangunan, tetapi juga menggabungkan nilai dan makna lokal yang akhirnya memperkaya arsitektur Nusantara.
Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, terlihat bahwa arsitektur Katolik di Jawa Timur dan Madura tidak berdiri sendiri, tetapi berkembang melalui proses akulturasi dengan arsitektur lokal. Setiap bangunan mencerminkan hubungan dua arah antara budaya luar dan nilai tradisi masyarakat setempat.
Perbandingan berikut menggambarkan hubungan antara elemen desain, nilai filosofi, serta bentuk adaptasi yang terjadi pada bangunan Katolik dan arsitektur vernakular lokal.

Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa arsitektur Katolik dan lokal saling memengaruhi tanpa menghilangkan identitas satu sama lain. Gereja Katolik beradaptasi agar selaras dengan iklim dan budaya Jawa Timur dan Madura, sementara arsitektur lokal juga menerima nilai-nilai simbolik Katolik seperti orientasi vertikal dan keteraturan ruang.
Dari sudut pandang desain, proses ini menunjukkan adanya reason thinking design, bagaimana arsitek menyesuaikan fungsi dan makna spiritual dengan konteks budaya serta kondisi lingkungan. Nilai estetika tidak hanya dipandang dari bentuk luar, tetapi juga dari bagaimana bangunan itu mewakili kepercayaan dan kehidupan masyarakat.
Dari perspektif lain, terdapat dua argumen, yaitu:
- Positif: akulturasi ini memperkaya karakter arsitektur Nusantara, menambah keragaman bentuk dan makna tanpa kehilangan akar budaya.
- Negatif: adaptasi nilai luar berisiko menggeser makna asli arsitektur lokal jika dilakukan berlebihan.
Hal ini menunjukkan bahwa arsitektur selalu berubah mengikuti kehidupan sosial dan kepercayaan masyarakat. Pengaruh Katolik di Jawa Timur dan Madura bukan bentuk penyeragaman, melainkan hasil dari perpaduan nilai dan budaya yang menciptakan arsitektur Indonesia yang harmonis.
Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pengaruh Katolik terhadap arsitektur di Jawa Timur dan Madura terjadi karena adanya percampuran budaya antara ajaran Katolik dan tradisi bangunan lokal. Gereja-gereja seperti Gereja Merah Kediri dan Gereja Santa Perawan Maria Surabaya menyesuaikan diri dengan lingkungan setempat melalui pemakaian bahan lokal dan bentuk yang cocok dengan iklim tropis. Hal yang sama juga terlihat pada bangunan lokal seperti masjid dan pendopo yang tetap mempertahankan nilai budaya sambil terbuka pada pengaruh luar. Semua ini menunjukkan bahwa arsitektur di Indonesia selalu berkembang dan beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya.
Dalam penelitian ini masih ada kendala (constraint) seperti kurangnya data lapangan dan dokumentasi detail tentang proses pembangunan serta makna simbolik tiap elemen. Namun, hal itu juga menjadi peluang (opportunity) untuk penelitian berikutnya, agar bisa menggali lebih dalam hubungan antara agama, budaya, dan arsitektur lokal. Dengan penelitian lanjutan, diharapkan kita bisa semakin memahami bagaimana arsitektur bisa menjadi jembatan antara kepercayaan dan kehidupan masyarakat.
Dosen: Amanda Rosetia, Ph.D
Tim Penulis Mahasiswa Universitas Internasional Batam: Dennis, Dimas Lukman Kurniawan, Jacky, Winsen Bong, Hillton, Mervyn Collins Huang, Ricky Melvin
Referensi / References
Hidayatun, M. I., Prijotomo, J., & Rachmawati, M. (2014). Arsitektur Nusantara sebagai dasar pembentuk regionalisme arsitektur Indonesia. https://www.mendeley.com/catalogue/94031020-1854-34e4-ba5e-50fb84fcdbf1.
Wardiningsih, S. (2015). Arsitektur Nusantara Mempengaruhi Bentuk Bangunan yang Berkembang di Indonesia. https://www.mendeley.com/catalogue/5ea6cd10-c5e9-39f5-a82d-77d2eef17362.
Yusran Y. A., & Hadinata S. (2019). Evaluasi keaslian Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel (Gereja Merah) Kota Kediri berdasarkan Nara grid. https://www.mendeley.com/catalogue/5c4bd9f1-fd1e-3785-b1e5-719fb4da7b79.
Limantara, K. D., & Roosandriantini, J. (2021). Identifikasi Pembentuk Karakter Langgam Arsitektur Klasik Pada Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria. https://www.mendeley.com/catalogue/3a229da1-c563-325d-8c89-98ac71eda5a3.
Richard, B., & Roosandriantini, J. (2022). Penerapan Arsitektur Gotik Pada Bangunan Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria Di Surabaya. https://www.academia.edu/download/92555944/25.pdf.
Triatmoko, A., & Mukti Wibowo, A. (2012). Cagar Budaya Masjid Kuncen Sebagai Ikon Wisata Sejarah Dan Religi Kota Madiun. https://www.mendeley.com/catalogue/35b7dcaf-c2e8-3b6b-8c40-ff4c8053f5d1.
Fahrezi, R. R., Pangestu, P. C., Mubarrok, Muh. A. Z., Mukholadun, G. W., & Aji, F. M. P. (2024). Masjid Agung Jamik Sumenep: Sejarah, Peran dan Pelestariannya sebagai Warisan Budaya. https://www.mendeley.com/catalogue/45e86a8a-f75d-3546-a6ba-2bd504e9ad5f.
Syaifuddin, Ahmad. (2018). Makna Simbol Dalam Arsitektur Masjid Jamik Sumenep Madura, Jawa Timur. https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/34173/1/12520012_BAB%20I_BAB_TERAKHIR_DAFTAR_PUSTAKA.pdf.
Andika, Fajri. (2022). Masjid Agung Sumenep: Akar Historis Toleransi Masyarakat Ujung Timur Pulau Garam. https://journal.nurscienceinstitute.id/index.php/jih/article/download/487/118.
Sapta Kartika Putri, E., Antariksa, & Sasongko, W. (2017). Citra Kawasan Cagar Budaya Trowulan Di Desa Trowulan Dan Desa Sentonorejo, Kabupaten Mojokerto. https://www.mendeley.com/catalogue/cfe27011-0e31-3d88-b15e-653e9de9ad43.
Anugerah, T. (2022). Bab II – Studi Literatur. Universitas Komputer Indonesia. https://elibrary.unikom.ac.id/id/eprint/7656/8/08_UNIKOM_BAB%20II_TRIANITA%20ANUGERAH_75320008.pdf.
Rochmaningtiyas Caturputri, Widiyarti. (2014). Mantra Weda Dalam Upacara Satu Suro Di Pendopo Agung Trowulan Jawa Timur. https://digilib.isi.ac.id/811/1/BAB%20I%20Widiyarti.pdf.